Selasa, 17 Mei 2022

Analisis Sistem Komunikasi Masyarakat Desa dan Kota Berdasarkan Aspek Sosiologi Komunikasi

Analisis sistem komunikasi masyarakat desa dan kota

Pendahuluan

Jika ditinjau dari bentukan katanya, sistem komunikasi tersusun atas dua kata yaitu "sistem" dan "komunikasi". Sistem dapat diartikan sebagai suatu keseluruhan yang unik, karena bagian-bagiannya berhubungan satu sama lain dan tidak bisa dipahami secara terpisah. Sistem terjadi karena ada interaksi di antara bagian-bagiannya. Dari 27th Annual INCOSE International Symposium (IS 2017) Adelaide, Australia, Juli 2017 mendefinisikan sistem sebagai kesatuan elemen seperti (perangkat keras, perangkat lunak, firmware, proses, orang informasi, fasilitas, teknik, layanan, dan elemen pendukung lainnya).

Kemudian, tersusun atas kata "komunikasi" yang dalam definisinya mengandung lima unsur sekaligus yaitu penyampaian pesan, pesan, penerima pesan, alat penyampai pesan, dan efek yang ditimbulkan oleh pesan yang disampaikan (Sahputra, 2021). Jadi, dapat disimpulkan bahwa sistem komunikasi memiliki pengertian yaitu terjadinya proses komunikasi yang melibatkan lima unsur komunikasi dalam suatu interaksi elemen-elemen penunjang kehidupan. Antara lima unsur komunikasi dan elemen dalam masyarakat saling berinteraksi sehingga menghasilkan sistem komunikasi yang dijunjung dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, diperlukan suatu proses komunikasi yang efektif dan maksimal. Secara sadar atau tidak, dalam kehidupan pasti terjadi sebuah proses bertukar pikiran antara satu individu dengan individu lainnya. Dalam proses tersebut, hadirlah suatu sistem komunikasi yang disepakati dan dijadikan pedoman oleh masyarakat.

Setiap wilayah memiliki karakteristik sistem komunikasi yang berbeda. Hal ini sangat mempengaruhi proses interaksi sosial yang terjadi dalam wilayah tersebut. Ada yang masih menjunjung adat istiadat atau tradisi, ada juga yang sudah bertransformasi ke arah modern. Proses ini dipengaruhi nilai-nilai yang dijunjung oleh masyarakat di suatu wilayah. Terdapat faktor sosiologi yang mempengaruhi proses komunikasi. Faktor tersebut diantaranya yaitu unsur yang terdapat dalam masyarakat itu sendiri seperti suku, agama, ras, budaya, strata pendidikan, jenis pekerjaan, dan faktor lainnya. Semua unsur tersebut yang menjadi faktor penting dalam membentuk sistem komunikasi dan dijunjung sebagai budaya komunikasi masyarakat.

Jika ditinjau dari aspek geografi, terdapat dua klasifikasi masyarakat, yaitu masyarakat desa dan masyarakat kota. Keduanya memiliki karakteristik tersendiri dalam aspek sistem komunikasinya. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dianalisis bagaimana sistem komunikasi yang terjadi di desa dan juga kota.

Isi

Berdasarkan berbagai pemikiran dari pakar komunikasi, menyimpulkan bahwa komunikasi merupakan proses penyebaran informasi, pendidikan dan keterampilan, mengubah rekayasa sosial dan perilaku.

1. Komunikasi memiliki fungsi sebagai proses penyebaran informasi kepada publik

Komunikasi dapat memberikan perspektif pembangunan dan berbagi ide dalam menciptakan perubahan antara pemerintah dan masyarakat.

2. Sebagai proses pendidikan dan keterampilan masyarakat

Melalui kontak, informasi, komunikasi dan penyebaran pesan di berbagai saluran proses komunikasi difungsikan untuk memberikan pendidikan dan keterampilan kepada masyarakat.

3. Sebagai proses teknologi sosial

Komunikasi dianggap sebagai bentuk proses rekayasa sosial yang bisa menciptakan kontak, partisipasi, dan dukungan informasi.

4. Sebagai proses perubahan perilaku

Proses komunikasi ini terkait dengan aspek pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan mental untuk mencapai perubahan. Informasi pesan akan sangat mempengaruhi dan menentukan perubahan perilaku seseorang (Akbar, Putubasai, dan Asmaria, 2019).

Fungsi komunikasi untuk masyarakat memang sangat luas. Komunikasi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Keempat fungsi di atas sangat mempengaruhi bagaimana pola interaksi sosial yang terjadi baik di masyarakat desa maupun di kota.

Dari aspek sosiologi, berikut ini yang dimaksud dengan masyarakat desa dan masyarakat kota. Masyarakat desa adalah suatu kelompok teritorial yang menyelenggarakan kegiatan hidup di suatu wilayah sesuai dengan tingkat peradabannya. Berikut karakteristik masyarakat desa:

1. Pola hidup masyarakat desa erat hubungannya dengan alam, hidup sederhana, rukun, dan gotong royong

2. Masyarakat religius atau masih sangat patuh terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya

3. Mata pencaharian sebagai besar hidup dengan mata pencaharian agraris.

Sedangkan masyarakat kota merupakan masyarakat (society) yang mana anggota-anggotanya berpisah-pisan, saling tidak kenal, dan lebih terikat kontak kekeluargaan. Adapun karakteristiknya sebagai berikut:

1. Heterogenitas sosial (padat dan timbul persaingan)

2. Hubungan antar masyarakat sangat terbatas

3. Toleransi sosial kurang diperhatikan

4. Bermobilitas sosial dan berkarakter individualistik.

Dari karakter tersebut mungkin disebabkan oleh lingkungan yang serba bersaing dan memiliki heterogenitas yang tinggi (Jamaludin, 2017).

Kota memiliki ciri khas tersendiri dalam berkomunikasi. Di sini nilai budaya para leluhur kurang dipelajari mendalam. Itu disebabkan pengaruh budaya luar yang sangat pesat perkembangannya. Sistem komunikasi yang terbentuk pada masyarakat perkotaan dapat dilihat dari mata pencaharian, pendidikan, cara berinteraksi, dan media yang digunakan dalam berkomunikasi. Hal ini berbanding terbalik dengan realitas sistem komunikasi yang terjadi di perdesaan. Masyarakat masih suka menjalankan tradisi dan menjalankan sistem komunikasi tradisional dalam kehidupan mereka. Berikut perbedaan sistem komunikasi di desa dan kota.

1. Kepercayaan: masyarakat kota lebih mempercayai hal yang rasional dan pragmatis disebabkan oleh kemajuan teknologi. Masyarakat desa masih ada yang menjunjung tinggi nilai religi dan norma sosial yang diturunkan secara turun temurun.

2. Pendidikan: sebagian besar pendidikan masyarakat adalah SMA atau sederajat. Mereka berbondong-bondong untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak mereka hingga ke perguruan Tinggi. Masyarakat desa lebih suka akan hal yang instan, terbukti sangat sedikit dari mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

3. Mata pencaharian: mata pencahariaan tradisional seperti bertani mulai ditinggalkan masyarakat kota. Masyarakat desa masih banyak yang bertani, berkebun, dan menjalani mata pencahariaan tradisional

4. Interaksi: interaksi yang terjadi cenderung individual dan kurang mengenal antara warga satu dengan yang lainnya. Di desa, interaksi yang terjadi sangat terjaga. Nilai kerukunan dan gotong royong sangat dijunjung di sana.

5. Media yang digunakan: fasilitas di perkotaan sangat mencukupi. Akses akan informasi didapatkan secara sangat cepat. Fasilitas di desa lebih sedikit dibandingkan dengan di kota, sehingga terkadang akses informasi lumayan lama disampaikan kepada khalayak (Andrian, 2020).

Menurut Juditha (2020), masyarakat desa merupakan instiusi sosial yang masih dipengaruhi oleh norma, sistem sosial, nilai, serta budaya. Oleh karena itu, masyarakat desa selama ini masih mengandalkan cara berkomunikasi langsung karena dapat mempengaruhi hubungan dan dianggap lebih sopan. Adanya teknologi informasi bukan hanya memengaruhi hubungan tetapi juga memengaruhi norma dan nilai yang dianut masyarakat desa (Juditha, 2020). Teknologi mempengaruhi segala macam aspek kehidupan baik di desa maupun kota. Saat ini masyarakat sudah memasuki era transformasi digital yang mana sistem komunikasi sudah dapat dinikmati oleh semua orang dengan cepat. Hal ini tentunya akan sangat membantu proses pembangunan di berbagai wilayah.

Teknologi informasi membuat tatanan sosial masyarakat mulai berubah. Dari desa hingga kota sudah paham akan teknologi sehingga proses sosial, politik, hingga budaya juga terpengaruh. Pastinya transformasi ini harus diimbangi menggunakan nilai kebudayaan asli yang dimiliki Indonesia.

Jika ditinjau dari teori sosiologi yang dicetuskan oleh Emile Dhurkeim menyatakan bahwa di perdesaan masih erat dengan aspek sosiologi komunikasi yaitu solidaritas mekanik yang mana masih menjunjung erat akan norma dan nilai religiusitas secara bersama-sama. Sedangkan masyarakat perkotaan erat dengan aspek sosiologi solidaritas organik yaitu mengenal pembagian kerja yang rinci dan dipersatukan oleh saling ketergantungan antar bagian dan kesepakatan-kesepakatan antara berbagai kelompok profesi (Setiyawati, 2014). Dari sini bisa dianalisis bahwa sistem komunikasi di perkotaan lebih modern dan berkarakter heterogen dibandingkan sistem komunikasi masyarakat perdesaan.

Penutup

Berdasarkan hasil pembahasan isi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1. Sistem komunikasi merupakan proses tejadinya komunikasi yang melibatkan lima unsur komunikasi dalam interaksi elemen-elemen penunjang kehidupan,

2. Komunikasi berfungsi sebagai proses penyebaran informasi, pendidikan dan keterampilan, serta mengubah rekayasa sosial dan perilaku,

3. Sistem komunikasi masyarakat desa lebih menjunjung nilai tradisional dibandingkan masyarakat kota yang lebih modern,

4. Ditinjau dari aspek sosiologi, sistem komunikasi masyarakat desa erat kaitannya dengan solidaritas mekanik, sedangkan masyarakat kota erat kaitannya dengan solidaritas organik.

Dapat ditarik pula sebuah harapan yaitu sistem komunikasi yang terjadi di desa dan kota terdapat perbedaan. Terdapat kelebihan dan kekurangan dalam sistem keduanya. Yang terpenting adalah menyelaraskan sistem komunikasi dalam kehidupan ini. Sistem komunikasi yang efektif akan membuat pola interaksi dalam masyarakat berjalan harmonis, selaras, dan seimbang.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, M.F., Putubasai, E. and Asmaria, A. (2019) ‘PERAN KOMUNIKASI DALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT’, KOMUNIKA, 2(2), pp. 111–127. doi:10.24042/komunika.v2i2.6027.

Andrian, B. (2020) ‘BUDAYA KOMUNIKASI MASYARAKAT PERKOTAAN’:, Syi’ar : Jurnal Ilmu Komunikasi, Penyuluhan dan Bimbingan Masyarakat Islam, 3(1), pp. 30–37. doi:10.37567/syiar.v3i1.228.

Juditha, C. (2020) ‘DAMPAK PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI TERHADAP POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT DESA (Studi Di Desa Melabun, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung)’, Jurnal PIKOM (Penelitian Komunikasi dan Pembangunan), 21(2), pp. 131–140.

Nashrullah Jamaludin, A. (2017) Sosiologi Perkotaan. Bandung: CV Pustaka Setia.

Sahputra, D. (2021) SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA Dalam Penggunaan Media Massa Dan Media Sosial.

Setiyawati, R. (2014) ‘Peranan Dukun Bayi Dalam Perspektif Masyarakat Jawa Terhadap Proses Persalinan Di Dusun Noloprayan Desa Jatirejo Kabupaten Semarang Jawa Tengah (Melalui Pendekatan Teori Solidaritas Mekanik Dan Organik Emile Durkheim)’. Available at: https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/25317 (Accessed: 17 May 2022).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sistem Komunikasi Masyarakat Kota dan Pengaruhnya terhadap Peradaban Berdasarkan Aspek Sosiologi Komunikasi

Sistem Komunikasi Masyarakat Kota ABSTRAK Komunikasi mempunyai peran penting dalam interaksi sosial masyarakat. Dalam setiap wilayah memilik...